RSS

Guru Tanpa Ijasah Strata-1 atau Diploma-4

11 Des

PONTIANAK POST, 6 Desember 2015  halaman 15, melaporkan pernyataan  pangamat pendidikan, Dr Aswandi,  bahwa  di awal 2016 akan ada sekitar 50% guru di Kalimantan Barat berhenti mengajar.  Mereka ini terkena dampak implementasi Undang Undang Guru No 14 tahun 2005 yang diundangkan pada  30 Desember pada tahun yang sama. Disebutkan bahwa semua guru harus sekurang-kurangnya berijasah Strata-1 atau Diploma-4 dalam waktu paling lama 10 tahun sejak diundangkan. Menurutnya, ada sekitar 46% guru di Kalbar yang hingga akhir Desember 2015 belum memenuhi kualifikasi itu. Sebagian besar dari mereka ini adalah para guru SD.
Bilangan  yang kurang lebih sama dibuat oleh Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat, 2013. Diperkirakan pada akhir 2015 akan ada sekitar 30 ribu guru di Kalimantan Barat yang belum bersertifikat karena belum berijasah Strata-1 atau Diploma-4. Bilangan itu didasarkan perhitungan kasar kemampuan LPTK dalam menyediakan program-program pendidikan Strata-1 untuk para guru yang telah mengajar itu.
Seandainya benar undang undang itu dilaksanakan penuh, maka pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi di sekolah. Akan terjadi kekosongan guru secara massal dan masif yang tidak dapat ditanggulangi. Akibat yang lebih jauh dapat diduga dengan mudah.

Apa yang dapat dilakukan?
Undang undang itu  diabaikan dalam jangka waktu tertentu sembari memberi kesempatan para guru memperoleh ijasah yang dipersyaratkan. Para guru diwajibkan mengikuti program pendidikan yang menyediakan ijasah Strata-1.  Jika kewajiban itu tidak dipenuhi maka mereka diberhentikan dari jabatan guru.
Namun pelaksanaannya, kelak, mungkin tidak mudah. Tidak semua guru siap belajar lagi. Selain umur juga semangat menimba ilmu yang baru serta ekstra waktu-tenaga-dan biaya menjadi kendala yang tidak ringan.
Jika mereka ini tersebar di tingkat SD, besar kemungkinan mereka ini berijasah SPG ynang programnya telah berakhir sekitar awal tahun 1990-an, sekitar 25 tahun yang lalu. Maka, para guru ini, sekarang tentu sudah berumur, lebih dari 40 tahun. Jika dipaksa harus mengikuti studi lanjut program Strata-1 maka ada kemungkinan  ‘yang penting gelar’. Mereka akan menjadi sarjana ‘abal-abal’. Apa akibatnya seandainya sungguh terjadi?
Dengan perkataan lain, meng-‘ijasah’-kan Strata-1 para guru ini dalam waktu yang pendek tidak mungkin. Apa yang dapat dilakukan yang lain? Membiarkan mereka tetap sebagai guru, tetapi tanpa tunjangan profesi guru. Mungkin ini akan banyak diterima oleh para guru karena dua alasan. Pertama mencari pekerjaan tidak mudah. Maka, tidak ada alasan untuk ke luar dari pekerjaan itu jika tidak mendapat pekerjaan yang lain yang lebih baik. Kedua, sebagian besar mereka ini sudah puluhan tahun menjadi guru. Karena itu, hatinya    sudah terlanjur lekat dengan guru. Guru menjadi panggilan hidup. Dulu dengan uang pas-pas-an tetap bertahan menjadi guru. Kini, mereka tidak akan mudah melepas pekerjaan itu karena alasan penghasilan. Mereka akan cenderung tidak meninggalkan anak muridnya begitu saja hanya karena tanpa tunjangan.
Jika ini menjadi pilihan, pemerintah tentu tidak boleh tinggal diam. Pemerintah sebaiknya memberikan pelatihan rutin untuk meningkatkatkan kualitas pembelajarannya dan kualitas pribadi para guru ini tanpa harus membuka program Strata-1.
John Hattie, guru besar pendidikan di Universitas Auckland-Selandia Baru, (2007) menyajikan karya besarnya berupa sebuah rangkuman lebih dari 50 ribu penelitian pendidikan di seluruh dunia. Lebih dari 50 juta siswa dan guru terlibat dalam penelitain itu. Ia menemukan 100 faktor yang mempengaruhi hasil pendidikan. Ke-100 faktor itu dikelompokkan menurut besar pengaruhnya (Effect Size / ES) yang secara berturut-turut menjadi faktor faktor guru (ES=0.50), faktor kurikulum (ES=0.45), faktor pembelajaran (ES=0.43), faktor siswa (ES=0.39), faktor rumah (ES=0.35) dan faktor sekolah (ES=0.23).
Kelompok faktor guru yang diambil dari lebih dari 2000 penelitian yang mencakup lebih dari 500.000 orang guru terdiri atas sepuluh (10) hal. Di antaranya adalah: bersikap baik pada siswa – ‘Absence of disruptive students’ (ES=0.86); bertingkah laku baik di kelas (ES=0.80); kualitas mengajar bagus (ES=0.77); Interkasi guru-murid bagus (ES=0.72); memberikan umpan balik kepada siswa (ES=0.72); melakukan evaluasi diri kinerjanya (ES=0.70); selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya (0.60); memberi harapan yang posistif bagi siswa (ES=0.37), menguasai materi yang diajarkan (ES=0.12) dan mengikuti pelatihan (ES=0.11). Ternyata, dari kesepuluh hal itu tidak ada yang menyangkut ijasah. Karena itu, pemerintah dapat memilih faktor-faktor yang ES-nya lebih besar dari 0.40 untuk di-‘infuskan’ kepada para guru ini. Dengan cara ini, bisa diharapkan guru tidak berijasah Strata-1 atau Diploma-IV pun dapat menghasilkan siswa yang baik. Semoga!

 Oleh:Leo Sutrisno

Sumber: http://www.pontianakpost.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Desember 2015 in Artikel, Berita Guru, Guru

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: