RSS

Kisah Guru Perbatasan yang Kesulitan Dapat Buku Pelajaran Maupun Koneksi Internet

01 Des

Kisah Guru Perbatasan yang Kesulitan Dapat Buku Pelajaran Maupun Koneksi Internet

tribunkaltim.co – Berbagai kesulitan dan keterbatasan coba diatasi para guru di perbatasan. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, sarana hingga sumber daya manusia, tetap saja mereka mengabdikan menjadi pendidik. Imbalannya, hanyalah sekadar melihat kesuksesan anak didik mereka.

Perjuangan para guru di daerah terpencil, di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, patut menjadi salah satu contoh keteladanan guru. Mereka tidak mengeluh meski harus mengajar di daerah terpencil dengan gaji yang kecil demi masa depan anak-anak perbatasan.

Salah satunya adalah Lenguing Ajang. Ia adalah istri Kepala Desa Long Penaneh di Kecamatan Long Apari yang di sekolah juga menjabat sebagai Kepala Administrasi di SMP 1 Long Apari. Selain itu,  Lenguing dikenal sebagai guru yang ramah.

Bahasa Indonesia Lenguing masih terbata-bata, namun tetap berusaha mengajar menggunakan Bahasa Indonesia. “Kalau di Perbatasan kan kami selalu menggunakan Bahasa Dayak. Kalau berbahasa Indonesia, dalam kegiatan sehari-hari itu jarang saja. Tapi kalau di sekolah, wajib pakai Bahasa Indonesia,” kata Lenguing.

Lenguing telah merasakan bagaimana sulitnya menjadi guru di perbatasan. Ia telah menjadi pengajar selama puluhan tahun. Sulitnya mengakses kurikulum terbaru dari Dinas Pendidikan, hanyalah salah satu ketertinggalan sekolah-sekolah di perbatasan.

Buku-buku pelajaran pun tidak lengkap, sehingga siswa harus belajar dengan buku seadanya. “Kalau kami ke ibukota provinsi, Samarinda, kami pasti cari buku-buku pelajaran terbaru. Kami berusaha melengkapi buku-buku yang ada. Tapi agak susah kalau mau ke ibukota,” kata dia.

Ia juga tak bisa pergi begitu saja. “Guru-guru di perbatasan sangat sedikit, jadi kami tidak bisa pergi-pergi seenaknya kalau tidak libur,” ujar dia.

Kesulitan lainnya adalah mengakses internet, juga menjadi masalah di perbatasan. Ketika pelajar di kota besar sudah mengerti bagaimana menggunakan internet, siswa di perbatasan tidak semua tahu.

“Jangankan internet, jaringan telepon saja putus-putus. Ya inilah perbatasan, walaupun serba kekurangan tapi siswa-siswa kami semangat belajar,” kata Lenguing lagi.

Lenguing mengaku sangat senang, ketika kemauan sekolah dari siswanya terus tumbuh. Ketika lulus SMA, rata-rata muridnya akan pergi ke ibukota dan menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia menaruh harapan besar, ketika siswa-siswanya telah sarjana, mereka dapat mengabdi di kampung mereka sendiri.

“Kalau sudah lulus sarjana, meski tidak semua, pasti ada lah yang akan mengabdi di kampung mereka sendiri. Saya berharap besar pada siswa-siswa yang sudah ke Ibu kota,” ungkap dia.

“Ketika mereka sukses, maka mereka juga akan menyukseskan kampung mereka di perbatasan,” sambung dia.

Disinggung tentang tunjangan guru dan gaji yang kecil, Linguing tersenyum. Dia mengaku tidak pernah menyoal masalah gaji, mendidik anak-anak di perbatasan sudah menjadi tugasnya.

Dia lebih memilih mencari kegiatan lain untuk menambah penghasilan. “Saya buat kerajinan tangan dari rotan, saya cari di hutan dan saya bikin kerajinan tangan sendiri. Hasilnya dijual dan harganya lumayan,” kata dia.

“Itu sudah bisa menambahi pendapatan untuk kebutuhan rumah tangga di luar gaji guru,” ungkapnya sambil tetap tersenyum. (*)

Sumber: Kompas.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2015 in Berita Guru, Guru

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: