RSS

Guru-Guru Tak Layak Ditiru

27 Nov

ilustrasi: kegiatan belajar mengajar di kelas. (Foto: dok. Okezone)

ilustrasi: kegiatan belajar mengajar di kelas. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA – Guru tidak hanya mengajar siswanya menjadi orang pintar. Peran guru juga mendidik generasi penerus bangsa agar menjadi pribadi unggulan. Tak heran, guru adalah orang yang digugu dan ditiru.

Hari Guru Nasional biasanya menjadi momen mengapresiasi berbagai karya nyata para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Bahkan, pemerintah memberikan penghargaan khusus bagi para guru berprestasi dan berdedikasi melalui Satya Lencana Pendidikan.

Namun, hari istimewa itu juga layak menjadi momen introspeksi mengingat ada juga sebagian guru yang justru tidak layak ditiru. Mereka tersandung masalah hukum lantaran perilaku tak terpuji yang diperbuatnya.

Berikut ini beberapa tindakan guru yang tak layak ditiru berdasarkan kasus-kasus yang pernah terjadi sebelumnya.

Guru pukul murid

Seorang guru akan menghadapi berbagai karakter siswa. Ada siswa yang penurut, rajin, jahil, nakal, dan lain sebagainya. Sebagai pendidik, guru diharapkan bisa mengarahkan dan mendidik siswanya dengan penuh kesabaran. Namun, ternyata beberapa guru tak bisa mengontrol emosinya sehingga melakukan kekerasan, seperti pemukulan.

Seperti yang terjadi di Bogor, Jawa Barat awal September 2015. Hanya karena murid terlambat mengumpulkan tugas, seorang guru kimia SMA berinisial AGS (42) tega memukul wajah sang murid hingga bibirnya terluka dan mengeluarkan darah.

Rupanya, tugas yang diberikan korban tidak sesuai dengan yang diinginkan pelaku. Tugas tersebut seharusnya dikerjakan sebanyak delapan lembar, namun korban mengerjakan tugas kurang dari delapan lembar. Karena tak mampu menahan amarah, saat korban hendak kembali ke kelas, pelaku langsung menarik sambil menjambak korban dan memukul siswa malang itu di wajah.

Di bulan yang sama, kasus pemukulan guru kepada murid juga terjadi di Depok. Lantaran merasa dihina sang murid, seorang guru IPS bernama Niko Demus menampar seorang murid yang baru duduk di kelas I SMP. Saat itu, murid yang diketahui bernama Jhon sedang bermain lempar kaos usai pelajaran olahraga. Kemudian, secara tak sengaja, kaos yang penuh keringat tersebut mengenai pelaku yang hendak mengajar.

Akibat tindakan pelaku, orangtua korban kemudian menyambangi sekolah untuk menuntut supaya guru yang bersangkutan dipecat. Orangtua murid itu bahkan mengancam akan melaporkan sang guru ke polisi jika pihak sekolah tidak bertindak tegas.

Guru cabuli murid

Tindak kejahatan pencabulan belakangan kerap menimpa anak usia di bawah umur. Ironisnya, beberapa pelaku pencabulan tersebut berasal dari kalangan guru yang seharusnya mengayomi murid-muridnya.

Kasus pencabulan yang dilakukan oleh guru kepada muridnya salah satunya terjadi di Palembang pada awal November 2015. EF (38), oknum guru honorer di salah satu SMP dilaporkan mencabuli salah satu siswi di sekolahnya yang baru berusia 14 tahun.

Ketika itu, korban berinisial IA diminta oleh gurunya membantu memeriksa soal ujian di ruang tata usaha. Setelah sepi, EF menarik korban ke belakang lemari di ruangan itu, kemudian menggerayangi tubuh korban dari bagian dada sampai organ intim.

Karena terbujuk rayu sang guru, korban yang tadinya berontak menjadi takluk, dan bahkan melakukan hubungan suami-istri ketika korban masih mengenakan seragam sekolah. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan keluarga korban kepada pihak kepolisian Polresta Palembang untuk ditindaklanjuti.

Kasus lainnya juga pernah terjadi di Musirawas pada September 2015. Tak tanggung-tanggung, pada kasus ini seorang guru SD tega melakukan perbuatan cabul terhadap 20 muridnya. Pelaku diketahui bernama Marhandi (50), guru SD Pelita Jaya, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musirawas.

Dari laporan yang diterima petugas kepolisian setempat, 20 pelajar yang mendapatkan perlakuan cabul dari guru tersebut, yakni TR, RV, RD, D, DP, AF, RA, ES, TW, JS, WN, SP, TS, DA, WY, NV, IS, AG, SU dan EF. Pelaku menggunakan modus mendekati siswi yang sedang bertanya saat pelajaran berlangsung. Kemudian, saat sudah duduk bersama korban, tersangka mulai mengerayangi tubuh korban, meremas payudara, hingga menekankan kemaluannya kepada korban.

Guru bertindak kriminal

Tindak kriminalitas tentu sangat bertentangan dengan profesi seorang guru. Sayangnya, beberapa kasus, seperti pembunuhan dan penganiayaan justru dilakukan oleh guru.

Baru-baru ini di Pekanbaru terjadi pembacokan kepala sekolah yang ternyata dilakukan oleh seorang guru dari sekolah yang sama. Sebelumnya, keduanya memang terlibat cek-cok mulut di dalam kantor. Tidak lama berselang, tiba-tiba korban bernama Nova Damayanti keluar dengan kondisi luka-luka dan minta pertolongan.

Guru olahraga SMKN 1 Ukui ini menggunakan senjata tajam parang dalam melakukan aksinya. Menurut para saksi, pelaku berinisial DJ tersebut langsung melarikan diri. Beruntung, polisi kemudian berhasil menangkap DJ dan segera melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Tindak kriminal yang menyeret guru sebagai pelaku juga terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Diduga sedang kalap usai bertengkar dengan istrinya, Imanuel Tefi, seorang guru SD nekat menghajar adik iparnya dengan menggunakan linggis.

Pelaku emosi karena tak terima saat adik iparnya melerai pertengkaran antara dia dan istrinya. Karena luka parah di bagian kepala belakang, korban yang sempat dilarikan ke RSUD Kota Soe akhirnya tewas. Sadar akan perbuatannya, usai peristiwa penganiayaan guru tersebut kemudian langsung menyerahkan diri ke kantor polisi.

Sumber: http://news.okezone.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 November 2015 in Berita Guru, Guru

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: