RSS

Selalu Dituntut, Sulit Menuntut

22 Nov

Selalu Dituntut, Sulit Menuntut

Guru-guru di Pekanbaru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) di SMA Negeri 8 Pekanbaru, baru-baru ini.

‘’Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa’’.

EMPAT bait terakhir lagu pujian kepada guru berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu, lebih sering dinyanyikan pada acara-acara tertentu saja. Seperti peringatan hari guru atau perpisahan di sekolah. Lagu itu sebagai simbol betapa guru adalah sosok yang sangat diperlukan dan dirindukan. Guru juga dituntut harus mampu memberikan yang terbaik dengan menjadi pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan sehingga menjadi patriot pahlawan bangsa dengan tanpa tanda jasa.

Guru yang menjadikan anak didik pandai menulis, membaca berhitung, tahu angka-angka, tahu uang, tahu mana yang baik dan benar. Dari sana jugalah anak didik tahu ilmu teknologi, gedget, internet dan masih banyak lainnya. Guru menciptakan banyak warna keindahan bagi bangsa. Seharusnya juga guru lebih indah dari warna-warna yang dilahirkannya.

Kenyataannya, tidaklah seperti itu. Banyak guru yang justru masih gagap dengan ilmu teknologi. Khususnya guru-guru generasi sebelumnya. Mereka banyak yang tidak pandai menggunakan IT dengan baik, tidak paham dengan android, apalagi menggunakannya. Terutama guru-guru yang mengabdikan diri di daerah pedalaman. Jangankan hendak membeli android, pergi mengajar saja dengan berjalan kaki.

Tidak hanya di daerah pedalaman. Guru di kota besar seperti di Pekanbaru, juga banyak yang belum paham dengan IT. Meski kata orang dunia dalam genggaman karena akses internet yang begitu mudah melalui handphone atau gedget lainnya, tapi jika tidak memahami IT ini, guru di kota juga tidak banyak berkembang. Mereka akan ketinggalan. Informasi apa saja bisa didapatkan melalui ingernet. Bahkan tentang mata pelajaran dan cara mengajar yang baik. Semua ada.

Untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru ini, pemerintah telah melakukan berbagai hal. Di antaranya pelatihan untuk guru, Penilaian Kinerja Guru (PKG) serta Uji Kompetensi Guru (UKG). Ini berlaku untuk semua guru. Terlebih UKG. Guru PNS, honor atau guru yang diangkat kepala sekolah dari semua jenjang pendidikan, wajib mengikuti UKG. Tidak lulus, wajib ikut lagi sampai lulus.

Mini, guru salah satu SMP Negeri di Pekanbaru, telah dua kali mengikuti UKG, yakni pada 2014 dan 2015 yang dilaksanakan baru-baru ini. Dua kali UKG, dua kali pula tidak lulus. Mini sudah mengajar dan diangkat menjadi PNS sejak 1984. Panjang pula perjalanan mengajarnya. Mulai dari Rumbio Bangkinang hingga dua sekolah lagi di Pekanbaru.

Menurut Mini, soal UKG yang diberikan oleh pemerintah banyak yang tidak nyambung alias lebih tinggi dari mata pelajaran yang biasa diajarkan di sekolahnya. Selain itu, sistem online atau kumputerisasi juga cukup menyulitkan. Meski begitu, Mini tidak menyerah. Ia akan mengikuti UKG pada kesempatan berikutnya.

‘’Tidak lulus karena soalnya tinggi-tinggi. Antara satu guru dengan guru lain soalnya sama, hanya bentuknya yang berbeda. 60 soal untuk dua jam dengan komputerisasi, kalau tidak biasa agak susah juga. Apalagi saya ini sudah cukup tua. Yang jelas, soalnya tidak sesuai atau lebih tinggi dari seharusnya,’’ ujar Mini kepada Riau Pos.

Tidak hanya Mini. Ada puluhan guru lainnya yang ikut UKG bersamanya. Dari 52 itu, hanya 12 orang yang lulus. Semua guru mengeluhkan hal yang sama. Mini mengetahui ketidaklulusan secara langsung setelah ujian dilaksanakan. Di layar komputer muncul nama guru, bidang mata pelajaran, jumlah soal benar, jumlah soal salah dan ucapan sukses atau tidaknya mengikuti UKG tersebut.
Hal serupa juga dialami Alvin. Guru salah satu sekolah swasta di Pekanbaru ini juga tidak lulus mengikuti UKG. Ia guru honor. Bersama guru lainnya di sekolah tempatnya mengajar, ia mengikuti tes itu. Banyak juga yang tidak lulus. Tapi Alvin baru sekali mengikuti UKG dan akan mengikuti lagi untuk kesempatan berikutnya.

‘’Ya, otomatis guru harus  paham IT, paham komputer. Soal-soal ada soal pedagodik dan profesional. Jadi, banyak soal umum yang dengan mudah kita temukan di internet. Kalau guru jarang atau gak pernah buka internet, susah juga. Banyak soal umum. Kalau soal pedagogik, itu sesuai dengan mata pelajaran yang kita pegang. Hanya saja,  kadang tidak sesuai. Ada guru yang dua tahun ngajar kelas I. Tapi soal yang keluar untuk kelas III bahkan SMA. Jadi tidak sesuai dengan yang kami ajarkan,’’ ujar Alvin pula.

Dibandingkan Mini, Alvin jauh di bawah atau termasuk generasi masa kini. Ia baru menamatkan S1 dua tahun lalu dan langsung mengajar sebagai guru olahraga honor di sekolahnya. Artinya, Alvin jauh lebih paham dan akrab dengan dunia maya. Apa saja ia faham, tapi tetap saja ia sama dengan Mini alias tidak lulus UKG.

UKG atau pelatihan guru lainnya dilaksanakan untuk membantu guru agar lebih bermutu dan berkualitas. Tapi tidak bisa guru yang tidak lulus dikatakan guru tidak berkualitas. Guru di daerah pedalaman akan lebih jauh tertinggal dari guru di kota. Bukan hanya soal cerita dan pengalaman, tapi juga IT seperti internet. Signal komunikasi saja susah apalagi untuk internet.

Misalnya guru-guru di Desa Pangkalan Kapas, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Begitu juga dengan desa-desa di sekitarnya seperti Desa Lubuk Bigau dan lainnya. Di sana tidak ada signal telepon. Kalau pun ada hanya ada di satu titik saja. Tentu saja tidak ada signal untuk internet. Tapi mereka juga harus mengikuti UKG dan pelatihan-pelatihan sesuai program pendidikan yang dilaksanakan pemerintah.

Daerah pedalaman dengan signal sekalipun tidak serta merta membuat guru di sana sama dengan guru di daerah perkotaan. Apalagi jenjang pendidikan yang dimiliki guru di sana jauh lebih rendah dibandingkan di kota. Di daerah pedalaman, banyak guru yang tidak tamat S1. Lebih banyak pula yang tamat SMA. Kalau pun di sekolah itu ada yang tamat S1, hanya beberapa saja. Begitu juga dengan guru PNS. Waktu mereka juga habis untuk mengajar dan perjalanan pulang pergi karena lokasi yang jauh.

Misalnya saja Nurul (30). Guru SD Negeri 21 Dusun Bandar Jaya, Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis ini tinggal jauh dari sekolah itu. Meski satu desa dan hanya beda dusun, tapi perjalanan ke sekolah cukup jauh. Harus melewati sungai dan hutan. Jalan setapak juga sulit dilewati terlebih saat musim hujan. Begitu juga dengan guru-guru lainnya. Bahkan ada yang tinggal di Sungai Pakning dengan jarak tempuh menuju sekolah lebih dari dua jam dengan sepedamotor.

Nurul dan rekan-rekannya dituntut harus datang setiap hari ke sekolah dengan jarak tempuh yang jauh. Hal yang sangat menggugah hati mereka adalah kondidi anak-anak jika sekolah diliburkan. Mereka akan ketinggalan mata pelajaran. Apalagi skeolah mereka tidak cukup enam kelas. Bahkan anak-anak kelas VI harus belajar di ruang pustaka. Mirisnya lagi, kantor guru pun berada di luar kelas. Hanya meja dan kursi kayu yang diletakkan di luar kelas. Itulah kantor mereka.

Dari sisi kesejahteraan, Nurul dan rekan-rekannya sangat jauh dari sejahtera. Untuk gaji saja sangat mini. Hanya Rp300 ribu per bulan. Benar mereka guru honor dan mengajar dengan hati gembira. Padahal, gaji itu belum termasuk biaya perahu menyeberang sungai sebesar Rp70 ribu per bulan.

‘’Kami gembira bisa mengajar. Jauh memang. Kadang kalau hujan sangat sulit untuk sampai ke sekolah. Jalan buruk. Pernah motor tertimbun lumpur dan akhirnya saya dengan rekan saya Bu Ani, tidak jadi sampai ke sekolah. Semangat saya mengajar, lebih semangat lagi anak-anak untuk sekolah. Kalau tidak datang, rasanya saya sangat bersalah dengan anak-anak. Kalau gaji jangan ditanyalah Bu. Sedikit. Guru dituntut harus sabar dengan segala hal, tapi tidak bisa menuntut lebih. Tapi yang terpenting anak-anak bisa sekolah,’’ aku Nurul.

Hal serupa juga dialami Eti Astuti (27). Guru sekolah Pendidikan Layanan Khusus (PLK) di Desa Nerlang, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepalauan Meranti. Jarak dari sekolah ke rumah Astuti sekitar 30 menit dengan menggunakan kapal. Sekali berangkat, Astuti dan rekan-rekannya harus membayar ongkos Rp80 ribu atau Rp160 ribu pulang pergi (PP). Padahal, Astuti hanya guru sukarela. Tidak digaji dan harus bayar ongkos sendiri. Meski sekolahnya hanya seminggu sekali.

‘’Kasihan anak-anak di Nerlang. Mereka suku pedalaman. Semangat belajar sedang tinggi. Meski sekolah hanya seminggu sekali, tapi sangat berarti bagi mereka. Ya, saya dan guru yang lain ikhlas mengajar di sana. Sukarela meski tidak digaji sama sekali,’’ kata Astuti.

Astuti baru dua tahun mengajar di Nerlang. Dia dan guru lainnya belum tahu tentang sertifikasi, UKG atau pelatihan-pelatihan lainnya. Karena selain mengajar di Nerlang juga mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Sungai Tohor, beberapa temannya pernah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan Dinas Pendidikan di Pekanbaru.

‘’Kami baru dua tahun mengajar. Jadi belum pernah ikut sertifikasi atau UKG. Bleum pernah dapat informasi tentang itu dari dinas atau lainnya. Yang penting saat ini anak-anak bisa sekolah dulu. Beriring waktu, nanti akan sampai juga ke sana. Saya ingat lagi untuk guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Itu sajalah yang jadi pegangan kami. Semoga kami benar-benar bisa jadi pelita di kala gelap dan embun penyejuk di kala kehausan,’’ kata Astuti.

Bukan Jaminan Mutu Pendidikan Guru
Pendidikan tidak bisa lepas dari peran guru yang disebut sebagai ujung tombak pendidikan nasional. Peran guru sangat besar melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkulitas untuk membangun negeri. Selain sebagai standarisasi mutu guru, UKG juga disebut sebagai peningkatan kesejahteraan guru dengan tunjangan sertifikasinya. Namun, kondisi tersebut membuat penilaian sendiri bagi masyarakat yakni, guru yang tidak lulus UKG adalah guru yang belum berkualitas. Terkait hal tersebut, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Riau, Syahril MPd, menyatakan ketidaksetujuanya jika UKG menjadi patokan ‘sebutan’ guru tidak berkulitas.

‘’Saya kurang sependapat jika UKG itu mewakili kualitas guru. Pasalnya, bisa saja mereka sehari-hari mampu membuktikan diri dengan kualitas pendidikan siswanya dan berhasil, tapi gagal pada saat UKG. Jadi alat ukur UKG tersebut tidak bisa disamakan dengan kualitas guru yang tidak lulus,’’ terang mantan Kepala SMKN 2 Pekanbaru tersebut.

Dijelaskannya, UKG tersebut memang program yang baik dari pusat guna menjaga mutu pendidikan. Pendekatan penggunaan IT juga dinilai tepat, yakini kedepannya IT adalah salah satu alat yang paling dominan digunakan. Meski begitu, harus juga disadari banyak para guru di Indonesia ini berada di generasi yang berbeda. Jika para guru yang tercipta pada masa millenium ini adalah generasi yang sudah biasa dengan teknologi, ada juga guru yang sudah tua yang tidak biasa dengan IT tersebut. Dia juga menyadari, hal tersebut tidak bisa menjadi asalan untuk guru yang gagal dalam UKG. Hanya saja, masyarakat dan pemerintah harus melihat sisi pengabdian para guru yang justru memiliki peran penting menciptakan generasi saat ini yang sudah hapal dengan IT.

‘’Guru lama seperti kami ini memang tidak terbiasa. Tapi kami juga sadar harus berpacu untuk menguasai IT. Diharapkan itu juga membuka mata semua, karena jelas kecepatan menerima IT di usia yang sudah tidak muda lagi menurun. Tapi bukan bearti kualitas guru yang tidak menguasai IT itu lemah. Semua itu sudah jelas tercatat setiap pelaksaan Ujian Nasional (UN),’’ jelasnya lagi.

Ditambahkannya, ‘’Mungkin alat ukur UKG itu yang harus dipertanyakan. Apakah ada jaminan jika orang lambat IT langsung lahir keputusan jika kualitas mengajar mereka rendah. Bisa saja sehariannya mereka mampu. Jadi jelas, alat ukrnya tidak dapat relefansinya.’’

Sementara itu, Syahril juga bercerita bagaimana guru yang tidak lulus UKG tersebut justru guru yang memiliki dedikasi terhadap pendidikan yang sangat besar. Sebagai contoh, beberapa guru yang sudah lama mengabdikan diri di kawasan terpinggirakan Riau yang jelas pendekatan IT-nya minim, apakah mereka tidak memiliki kulitas pendidikan? Untuk itu, Syahril meminta paradigma guru yang tidak lulus UKG adalah guru yang tidak berkulitas.

Tidak hanya itu, PGRI juga mendorong pemerintah memperhatikan guru yang mengabdikan diri mereka ke pendidikan untuk dapat diangkat menjadi PNS. Pasalnya, pengabdian mereka tidak hanya bisa dinilai dengan UKG,tapi juga jaminan kesejahteraan. ‘’PGRI itu tidak membedakan status Guru, baik PNS, honor maupun komite. Yang penting mereka memiliki keinginan kuat memajukan pendidikan di daerahnya. Jangan sampai karena UKG ini membuat semangat guru menurun dan jelas mengakibatkan kulitas pendidikan juga menurun. Kami tahu benar asam garam menjadi guru itu,’’ ujarnya.

Tidak Hanya Mengajar di Dalam Kelas
Guru memang identik dengan seseorang yang mengajar di dalam kelas. Tapi tidaklah begitu kondisinya. Apalagi di Riau. Guru di Riau juga turun ke jalan melakukan aksi melawan asap agar anak-anak mereka bisa segera masuk sekolah. Selama musim asap beberapa waktu lalu, dunia pendidikan di Riau sempat kacau. Anak didik harus libur tak menentu. Kadang libur kadang tidak. Kadang seminggu masuk dua kali. Bahkan datang ke sekolah hanya untuk menjemput PR. Sementara, jadwal ujian tetap sama secara nasional.

Melihat kondisi itu, guru-guru tidak tinggal diam. Mereka juga melakukan aksi melawan asap. Melalui Forum Guru Melawan Asap, mereka membentangkan spanduk di tengah jalan meminta agar pemerintah segera menuntaskan persoalan asap sehingga anak-anak didik bisa kembali masuk sekolah. Guru sebagai pelita dan penyejuk, sangatlah dirasa dengan kepedulian mereka yang tiada henti dengan dunia pendidikan. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu kepada anak didik, tapi juga terus belajar untuk menjadi guru yang lebih baik.

‘’Tidak hanya guru-guru yang melakukan aksi melawan asap, anak-anak juga ikut. Mereka sekedar membuat puisi tentang asap, cerita asap dan lain-lain yang berhubungan dengan asap. Itu mereka sendiri, bukan karena kita yang menyuruh. Katanya mereka sudah bosan di rumah terus. Rindu sekolah, rindu pelajaran, rindu main dengan teman-teman sekelas. Ya, kita mau bagaimana,’’ ungkap Siti, guru di salah satu SD di Kecamatan Sukajadi.

 

Sumber: http://riaupos.co

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2015 in Artikel, Berita Guru, Guru, UKG

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: