RSS

Menjadi Guru Penulis

22 Nov

 

 

Oleh: Surya Setiawan

SEBAGAI guru profesional, guru harus memiliki kemampuan menulis, baik untuk kepentingan penulisan buku, bahan ajar, laporan PTK maupun memberi catatan pada tugas-tugas siswa.

Menulis pada hakikatnya sebuah kegiatan yang dikategorikan sebagai salah satu bentuk komunikasi. Komunikasi adalah sebuah proses interaksi ide, pikiran, dan gagasan seseorang kepada orang lain. Menulis adalah proses mengomunikasikan ide, pikiran dan gagasan melalui media tulisan. Penulis berkomunikasi secara tak langsung dengan pembaca melalui tulisannya. Dalam konteks itu, seharusnya semua orang mampu menulis sebagai perwujudan dari komunikasi dengan orang lain.

Penyebab guru tak menulis

Guru yang tak mau atau tak mampu menulis karya ilmiah adalah guru yang tidak profesional. Sebab, salah satu indikator yang harus dimiliki guru dalam kompetensi profesional adalah kemampuan menyusun laporan penilaian dan penelitian tindakan kelas.

Beberapa kategori permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam menulis karya ilmiah yaitu masalah motivasi, kemampuan, dan kesempatan.

Menurut Darwis Sembiring, empat faktor yang dapat diidentifikasi menjadi penyebab guru sulit menulis: kurang membaca, kurang berlatih menulis, kerancuan dalam berpikir, kerancuan dalam berbahasa.

Mitos yang menghalangi guru dalam menulis

Menulis sering dipersepsikan oleh banyak orang, khususnya guru, sebagai suatu hal yang mustahil dilakukan. Sering muncul dalam percakapan keseharian, “Saya mau menulis, tapi bagaimana caranya? Saya mau menulis, tapi waktu saya habis untuk mempersiapkan pembelajaran untuk anak-anak’’, atau ungkapan lainnya yang menunjukkan bahwa menulis dipersepsi sebagai sesuatu yang mustahil dilakukan. 

Hal yang sering menghalangi seseorang untuk menulis adalah mitos-mitos negatif dalam pikiran penulis. Beberapa mitos yang dapat diidentifikasi sering muncul pada guru-guru yaitu :

1. Menulis harus menghasilkan tulisan yang sangat bagus

Salah satu penyebab yang menghambat guru untuk menulis adalah munculnya anggapan guru bahwa seorang penulis harus menghasilkan tulisan yang sangat bagus atau sempurna. Hal ini sering muncul pada awal guru menulis, sehingga mengakibatkan guru tak jadi menulis, padahal menulis adalah suatu proses penyampaian pikiran penulis kepada pembaca melalui media tulisan. Seharusnya apa yang ada dalam pikiran penulis itulah yang dituangkan ke dalam tulisan. 

Ketika muncul pemikiran penulis bahwa hasil dari tulisannya harus sangat bagus, persepsi tersebut akhirnya membelenggu penulis untuk bergerak menuliskan kata-kata yang telah ada dalam pikirannya. Setiap orang dapat menjadi penulis dan boleh menulis. Asumsi bahwa hasil tulisan itu harus sangat bagus adalah salah. Setiap tulisan memiliki karakter tersendiri, begitu pula dengan penulisnya. Setiap penulis juga memiliki karakter tersendiri. Jangan terlalu khawatir tulisan kita akan memiliki kekurangan di sana-sini. Yang harus kita lakukan adalah terus berproses dalam menuangkan ide dan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Suatu saat pasti tulisan kita akan berubah menjadi baik.

2. Menulis butuh banyak waktu

Mitos kedua yang sering menghantui guru untuk menulis adalah asumsi bahwa menulis akan menghabiskan banyak waktu. Sedangkan guru memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Entah itu  memeriksa tugas-tugas siswa, menyiapkan materi bahan ajar atau membuat persiapan pembelajaran. Asumsi ini sering muncul karena dalam pikiran penulis, menulis itu harus sedemikian tebalnya sehingga membutuhkan banyak waktu. Mengingat itu, seorang guru yang akan menjadi penulis berpikir dua kali untuk mulai menulis. 

Untuk memecahkan mitos ini, penulis dapat membagi waktu yang ada secara berkesinambungan. Asalkan menulis dilakukan terus-menerus walaupun dalam durasi yang singkat, pada akhirnya tulisan akan dapat diselesaikan. Hal ini dapat didukung oleh keapikan penulis dalam mengorganisasi tulisan. Penulis akan jadi lebih bagus jika  memiliki folder khusus untuk menyimpan tulisannya, sehingga mudah mengklasifikasikan berdasarkan waktu. Mana tulisan yang pertama, kedua, dan yang terakhir ditulis.

3. Menulis harus mengenai hal yang spektakuler

Banyak guru enggan menulis buku karena beranggapan mereka harus menulis sesuatu yang sensasional. Pada dasarnya, setiap orang bebas menulis apa saja, tak perlu harus hal yang rumit. Menuliskan sesuatu yang sederhana pun tak masalah asalkan dapat mengemasnya dengan apik dan menarik.

Pemecahan mitos ini dapat dilakukan dengan memosisikan bahwa hal yang sederhana atau keseharian yang dilakukan oleh guru dapat dijadikan bahan tulisan. Lalu tulisan tersebut dikemas sebaik dan semenarik mungkin. Manfaatnya tidak saja bagi guru yang bersangkutan, tetapi juga bagi orang lain.

4. Menulis akan berhasil jika penulis adalah pakar di bidangnya

Mitos ini sering muncul karena guru kurang percaya diri terhadap potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Pada hakikatnya semua orang berpotensi untuk menulis. Jika kita beranggapan bahwa penulis harus pakar dalam bidangnya, tentunya guru adalah pakar dalam mendidik. Pakar bukan berarti ahli dalam berbagai teori, tapi lebih pada menggeluti suatu perkara secara terus-menerus dengan serius. Kenyataannya banyak orang yang dikategorikan sebagai pakar dengan segudang gelar kesarjanaan, tapi tak pernah memiliki karya tulis. Hal ini karena mereka pun berpikir bahwa tulisan seorang profesor haruslah sempurna.

Tentu saja pemikiran itu salah. Setiap orang berhak dan dapat menulis. Kita tak harus menjadi ahli terlebih dahulu untuk menulis buku. Anggapan bahwa menulis buku nanti kalau sudah jadi profesor baru boleh menulis adalah anggapan salah. 

Manfaat menulis

Banyak guru tak memahami manfaat menulis. Hal ini sering berakibat pada ketidakmauan guru untuk menulis, baik buku, bahan ajar, laporan penelitian, artikel untuk media cetak, maupun berbagai tulisan lainnya.

Manfaat menulis bagi guru:

1. Menulis menjadi media untuk menuangkan ide, gagasan dan pemikiran mengenai berbagai hal, khususnya terkait tugas dan fungsinya sebagai tenaga pendidik.

2. Menulis bermanfaat untuk kelancaran kenaikan pangkat guru, baik di sekolah negeri maupun swasta.

3. Menulis bermanfaat untuk pengembanmgan materi atau bahan ajar dalam mata pelajaran yang diembannya.

4. Tulisan yang dibuat oleh guru akan menjadi investasi bagi dirinya.

5. Menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.

6. Menulis merupakan bagian dari pertanggungjawaban profesi guru.

7. Menulis juga dapat menghantarkan penulisnya sebagai jutawan.

8. Menulis akan menghantarkan penulisnya jadi orang terkenal.

Nah, setelah kita menelusuri berbagai hal yang merintangi guru untuk menulis, tergambarlah saat ini bahwa seorang guru dapat menjadi penulis. Adapun berbagai sebab, mitos dan manfaat  yang belum diketahui guru sampaisaat ini seharusnya dapat mendorong guru untuk langsung menulis.

Kunci untuk dapat menulis adalah terus berlatih menuliskan ide, pikiran dan gagasan ke dalam bentuk tulisan. Menulis tak ada teori khusus yang harus dipelajari melalui suatu proses perkuliahan. Menulis pun tak dapat dicapai hanya dengan membaca, mendengar, atau mengikuti kuliah, tetapi harus dilakukan dengan cara berlatih menulis, kemudian menulis dan menulis.

Sumber: http://analisadaily.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2015 in Artikel, Berita Guru, Guru

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: